Perkembangan Souvenir

 

Saat ini souvenir seperti menjadi pelengkap utama sebuah acara. Tidak ada souvenir dalam suatu acara rasanya seperti “sayur tanpa garam”, akan terasa “hambar” dan mengganjal di hati. Pernahkan Anda bertanya-tanya bagaimana awal mulanya budaya memberikan souvenir ini dilakukan? Di dapat dari berbagai sumber, disini akan coba kami jelaskan mengenai sejarah dari souvenir atau yang kini biasa juga disebut sebagai cendera mata.

 

Kabarnya souvenir berawal dari tradisi eropa kuno. Souvenir pertama kali digunakan oleh bangsa eropa kuno di saat acara pernikahan. Bagi bangsa eropa kuno pernikahan adalah sesuatu keburuntungan yang mana perlu di bagi keberuntungan tersebut dengan memberikan Bonbonniere. Apa itu Bonbonnire? Bersumber dari Wikipedia menjelaskan bahwa bonbonnrie adalah semacam sebuah kotak perhiasan kecil yang terbuat dari kristal, dan juga batu mulia. Kotak tersebut menjadi wadah yang di dalam nya terdapat isi yang dianggap sangat bernilai oleh bangsa eropa kuno. Isinya bukan emas atau logam mulia lainnya, melainkan gula halus. Ya gula yang pasti terdapat di dapur kita.

 

Dulu gula dianggap sangat berharga karena merupakan symbol dari kekayaan dan kedermawanan. Hal ini menjadi wajar karena dahulu dula sangatlah mahal harganya. Yang bisa mendapatkannya hanya orang-orang kaya saja. Mungkin itu sebabnya orang dahulu tidak banyak menderita sakit diabetes karena gula hanya di konsumsi oleh beberapa orang saja dan berbeda dengan sekarang. Oleh karena itu, souvenir pada zaman dahulu hanya mampu diberikan ketika acara-nya orang-orang kaya saja.

 

Zaman semakin berkembang, dan produksi gula pun semakin meningkat yang akhirnya membuat harga gula tidak lagi mahal. Saat itu tidak hanya orang kaya saja yang mampu memberikan souvenir bonbonniere, hampir pada umumnya masayarakat eropa kuno memberikan souvenir kotak berisi gula tersebut di setiap acara. Pada abad ke 13, mulai di temukan “confetti” semacam almond yang dilapisi dengan gula. Confetti berubah menjadi almond yang manis, dan dijadikan inovasi baru bagi masyarakat untuk di jadikan souvenir.

 

Untuk kemasannya pun mulai ada perubahan, jika dahulunya souvenir di berikan dengan kemasan kotak Kristal, namun semakin berkembang akan lebih praktis jika confetti di bungkus dengan kain yang elegan. Souvenir tersebut mulai meluas dan di anggap sebagai symbol dari kesuburan, kekayaan, umur panjang, kesehatan, serta kebahagiaan. Semua symbol tersebut adalah doa bagi penyelenggara dan para tamu acara. Semakin berkembang hingga mulai memasuki abad 19, souvenir semakin meluas menjadi tradisi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Souvenir mulai mengalami transformasi di setiap daerah masing-masing yang menyesuaikan symbol kesejahteraan masing-masing budaya. Jika dahulu souvenir kebanyakan adalah sejenis makanan maka kini mulai berubah, Dahulu, komoditi dari hasil pertanian sangatlah berharga dan bernilai karena sangat jarang di dapatkan.

 

Namun kini seiring dengan kemajuan teknologi yang mulai mempermudah terpenuhinya komoditi pertanian yang menjadi sumber makanan membuat semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. Souvenir terus mengalami transformasi hingga mulai banyak yang memberikan souevenir dalam bentuk barang. Walau tidak bisa di makan namun barang-barang yang dihias dengan unik akan menjadi daya Tarik tersendiri dan menimbulkan kepuasan batin penerimanya. Jika dulu symbol kejayaan di lekatkan pada makanan namun kini mulai dilekatkan pada suatu barang yang unik.

 

Penyimbolan terhadap suatu barang terus mengalami inovasi dan terus mengalami perubahan bentuk souvenir. di abad 20 ini, souvenir digunakan sebagai kenang-kenangan untuk acara-acara besar. Tidak hanya di berikan ketika acara antara keluarga seperti pernikahan, namun souvenir juga di manfaatkan ketika acara-acara perusahaan dan menjadi bagian dari upaya promosi produk. Bentuk souvenir pun kini tidak hanya memperhatikan aspek souvenir unik melainkan juga berguna bagi penerimanya. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, alat kantor, alat tulis, hiasan dinding, dll bisa menjadi souvenir yang memberikan efek psikologis bagi setiap penerima souvenir.

 

Artikel ini ditulis oleh Niknik Bestar.

Copyright © 2014 by PT Vegnastar Indoglobal